Kalau orang bicara tentang kesuksesan, biasanya yang terlihat adalah hasil akhirnya: pabrik yang berdiri, merek yang dikenal, dan produk yang sampai ke pasar luar negeri. Yang jarang terlihat adalah perjalanan panjang sebelum semuanya tampak rapi dan mengilap.
Kesuksesan dalam dunia usaha sering diperlakukan seperti lampu neon: menyala terang dan seolah muncul begitu saja. Padahal sebenarnya lebih mirip lampu minyak—harus diisi, dijaga, dan kadang tertiup angin.
Di antara cerita-cerita seperti itulah kita menemukan kisah seorang pengusaha dari Kabupaten Pamekasan, Madura bernama H. Suhaydi, owner PT Empat Sekawan Mulia (ESM).
Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan ekonomi nasional, tetapi jejak usahanya pelan-pelan bergerak dari Pamekasan menuju pasar yang lebih luas, bahkan hingga luar negeri.
Dan seperti kebanyakan kisah pengusaha yang sungguh-sungguh, perjalanan itu tidak dimulai dari kemewahan.
Madura, Tembakau, dan Cara Melihat Dunia
Madura adalah tanah yang punya hubungan panjang dengan tembakau. Bagi orang Madura, tembakau bukan sekadar tanaman; ia adalah bagian dari kehidupan.
Di ladang-ladang tembakau itu, orang belajar tentang musim, tentang kesabaran, dan tentang menunggu hasil dengan hati yang tidak tergesa-gesa.
Barangkali di situlah salah satu sumber cara berpikir Suhaydi terbentuk.
Ia tumbuh di lingkungan yang memahami bahwa di balik sebatang rokok ada banyak tangan yang bekerja: petani yang menanam, buruh yang mengolah, pedagang yang menjual, dan jaringan panjang yang menggerakkan ekonomi kecil di desa-desa.
Dari situ muncul kesadaran sederhana: rokok bukan hanya produk, tetapi juga ekosistem ekonomi.
Pendidikan dan Pembentukan Watak
Banyak orang mengira pengusaha lahir hanya dari keberanian mengambil risiko. Padahal ada satu unsur lain yang tidak kalah penting: watak.
Pendidikan, dalam arti yang luas, sering menjadi tempat watak itu ditempa.
Bagi Suhaydi, pendidikan bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Ia menjadi sarana untuk belajar disiplin, memahami organisasi, dan—yang tidak kalah penting—belajar bersabar.
Dalam dunia usaha, kesabaran sering menjadi modal yang lebih mahal daripada uang.
Uang bisa dicari. Kesabaran sering harus dilatih.
Merintis Usaha Tanpa Tergesa-gesa
Industri rokok di Indonesia bukanlah ladang yang kosong. Ia adalah industri yang sudah penuh pemain besar, merek terkenal, dan jaringan distribusi yang kuat.
Masuk ke dalamnya tentu bukan perkara ringan.
Tetapi Suhaydi tidak memilih jalan yang tergesa-gesa.
Ia memulai usaha dengan cara yang lebih tenang: membangun kualitas produk, memperkuat produksi, dan secara perlahan memperkenalkan merek.
Dari proses itulah lahir berbagai produk dari PT Empat Sekawan Mulia, salah satunya yang cukup dikenal adalah King Djava.
Nama itu mungkin sederhana, tetapi di baliknya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Dari Pamekasan ke Luar Negeri
Dalam dunia usaha, ada satu tahap yang sering dianggap sebagai ujian: ketika produk mulai menembus pasar luar negeri.
PT Empat Sekawan Mulia akhirnya sampai pada tahap itu.
Produk-produknya mulai dipasarkan ke beberapa negara seperti Timor Leste, Malaysia, dan Filipina, bahkan membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain di Eropa.
Salah satu produk yang menarik perhatian pasar adalah King Djava Click Blueberry, yang diekspor dalam jumlah jutaan batang ke Malaysia.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar angka ekspor.
Tetapi bagi seorang pengusaha yang memulai dari daerah, ekspor sering menjadi simbol bahwa produk lokal tidak kalah dengan produk global.
Usaha yang Menghidupi Banyak Orang
Ada satu ukuran lain yang sering dilupakan ketika menilai keberhasilan bisnis: berapa banyak orang yang ikut hidup dari usaha itu.
PT Empat Sekawan Mulia kini mempekerjakan lebih dari seribu karyawan, sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar.
Itu berarti ada ribuan keluarga yang kehidupannya bergantung pada keberlanjutan perusahaan tersebut.
Rencana pembangunan pabrik baru yang sedang disiapkan perusahaan juga membawa satu pesan penting: usaha yang berkembang selalu membuka ruang ekonomi yang lebih luas.
Dalam arti tertentu, keberhasilan seorang pengusaha sering kali berarti keberhasilan bagi banyak orang lain.
Ketika Pengusaha Tidak Berhenti Bermimpi
Yang menarik dari perjalanan Suhaydi adalah kenyataan bahwa ia tidak berhenti pada satu sektor saja.
Di bawah naungan Empat Sekawan Grup, ia mulai merambah bidang lain, termasuk pengembangan jaringan ritel modern melalui pembukaan Alfamidi di Pamekasan.
Ini menunjukkan satu hal yang sering menjadi ciri pengusaha yang bertahan lama: kemampuan untuk beradaptasi.
Dunia usaha tidak pernah diam. Mereka yang berhenti bergerak biasanya akan tertinggal.
Pelajaran dari Sebuah Ketekunan
Pada akhirnya, kisah Suhaydi bukan sekadar cerita tentang rokok, ekspor, atau perusahaan yang berkembang.
Kisahnya lebih dekat kepada pelajaran sederhana tentang ketekunan.
Ia menunjukkan bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang ia dimulai dari keyakinan kecil yang dijaga setiap hari.
Di tanah tembakau Madura, seorang pengusaha membuktikan bahwa kesabaran bisa menjadi modal yang tidak kalah penting daripada modal finansial.
Dan dari Pamekasan, sebuah cerita tentang kerja keras pelan-pelan berjalan menuju dunia yang lebih luas.
Barangkali inilah inti dari seluruh kisah itu: bahwa kesuksesan bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari perjalanan panjang orang-orang yang tidak pernah berhenti bekerja.
Oleh: Moh. Hasanuddin (Staff PT ESM)